ENAKNYA TAHU PETIS

Posting pertama, saya awali dengan cerita tahu petis  yang kanelop ( baca: enak pol)

Meski sudah lebih dari 20 tahun saya tinggal di Malang, tapi kalau ditanya sudah berapa kali ke alun-alun kota (yang diapit Jl. Merdeka Barat dan Jl. Merdeka Timur)? Maka jawaban saya tidak lebih dari 3 kali (itupun tidak sempat menikmati suasananya). Kalau sekedar lewat dan mengelilinginya saja sering ^_^.

Namun siang itu karena suatu alas an yang mengharuskan saya kesana (alun-alun kota). Maka pada hari Jum’at sekitar pukul 12.15 saya memarkir kendaraan roda dua saya di tempat parkir seadanya yang tersedia. Setelah itu saya langsung menuju ke tempat duduk yang ada di taman alun-alun sambil menikmati suasananya yang selama ini jarang saya rasakan.

Seperti kebanyakan alun-alun kota, alun-alun kota Malang pun dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengais rejeki, mulai dari yang tanpa modal sampai yang bermodal seadanya(anda mengerti maksud saya).  Ada yang menarik pandangan saya saat itu, “Mengapa banyak sekali penjual  tahu petis ya?”. Saya sempat berpikir, betapa tidak kreatifnya mereka… berjualan barang yang sama pada tempat yang sama.

Salah satu penjual tahu petis di alun - alun

Rasa penasaran saya baru terjawab setelah jama’ah sholat jum’at keluar dari masjid jami’ yang berada tepat di sebelah timur alun-alun. Para jama’ah yang baru saja selesai melaksanakan sholat plus mendengarkan khutbah masih lengkap  dengan sarung, baju koko, kopyah dan sajadah yang terkalung di leher itu tidak langsung pulang ataupun kembali melanjutkan aktivitasnya melainkan ramai-ramai menyerbu para penjual Tahu Petis yang sempat saya “vonis” tidak kreatif tadi.

Para jama’ah menyerbu penjual Tahu Petis bukan untuk mengeroyok mereka lantaran nekat jualan pada saat  sholat jum’at sedang berlangsung melainkan untuk menikmati tahu petis yang sudah tak sabar untuk disantap oleh para penikmatnya. Bahkan satu orang bisa menghabiskan lebih dari 10 potong tahu ck ck ck. Walaupun mereka harus jongkok di depan bakul ataupun tampah yang penuh berisi tahu, mereka tak peduli daripada kehabisan.

Tahu petis diserbu pembeli

Pembeli yang rela jongkok berlama-lama

Saya sampai keheranan ketika melihat seseorang yang rela jongkok berlama – lama demi memuaskan keinginannya untuk menikmati enaknya tahu petis (entah sudah berapa tahu yang ia habiskan, atau jangan-jangan pada waktu sang khotib menyampaikan khutbah, yang ada di pikirannya hanyalah tahu petis he..he..he..).

Jaya terus Tahu Petis! hmmm….lezat… ^_^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s