CERITA SANG TUKANG PARKIR

Tak terasa sudah satu jam lebih saya duduk di depan layar dan menjelajahi setiap jengkal halaman dalam dunia maya yang tak mengenal batas ini, jari jemari saya masih beradu dengan tuts-tuts keyboard. Karena ada beberapa informasi yang saya butuhkan dan belum juga saya dapatkan, saya memutuskan untuk bertahan beberapa waktu lagi dalam salah satu bilik warnet yang terletak di jalan semeru ini dengan ditemani dinginnya udara dari AC yang sengaja dibiarkan menyala oleh empunya warnet dengan alasan kenyamanan, padahal sangat tidak nyaman bagi saya yang alergi dengan alat yang satu ini.

Alhamdulillah, tak berapa lama kemudian saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Segera saja saya mematikan layanan internet yang tengah saya gunakan , takut uang di kantong saya tidak cukup untuk membayar tagihannya. Setelah membayar tagihan di kasir, saya bergegas pergi dari ruangan yang super dingin ini.

Begitu keluar, hujan deras disertai angin kencang langsung menyambut saya. Rencana saya untuk segera pulangpun harus ditunda, karena tidak memungkinkan bagi saya pulang mengendarai motor dalam kondisi hujan lebat disertai angin yang cukup menakutkan ini. Saya pun menunggu hujan reda sembari duduk di kursi teras depan warnet. Tiba – tiba saya dihampiri oleh seorang bapak yang dari pakaiannya saya bisa menebak bahwa beliau adalah petugas parkir di daerah pertokoan ini, beliau berkata kepada saya, “tunggu hujan agak reda saja Mbak.” “Iya Pak,” jawab saya sambil tersenyum.

gambar diambil dari http://tribun-timur.com/


Setelah itu obrolan kami pun berlanjut, “hujannya lumayan ya Pak,” kata saya,“Iya Mbak, malah kemarin di daerah Blimbing situ katanya ada hujan es mbak.” tukas sang bapak dengan semangat.”Benar Pak?” tanya saya penasaran,” iya Mbak lha wong ada di koran, teman saya yang lewat daerah situ kemarin juga bilang begitu ke saya,” lanjut sang bapak antusias.”Mmmm…saya baru tahu pak”.“Sudah lama pak kerja di daerah sini?”, tanya saya kemudian. “Lumayan mbak, sudah sekitar 3 tahunan,” jawab tukang parkir itu. Sebelum saya sempat bertanya lagi, beliau melanjutkan, “sebelum disini saya dulu ikut trek (truk) mbak, tapi ya gitu mbak capeknya luar biasa, dapat duitnya gak seberapa….”beliau mengambil nafas panjang sejenak, lalu bertanya kepada saya, “Ngomomg – ngomong mbak sekolah dimana?”, “saya di Brawijaya pak,” jawab saya. “Oooo sudah kuliah to, enak ya kuliah….,” kata beliau lagi. Saya hanya tersenyum.

Beliau kembali bercerita, “Saya dulu SMA saja tidak selesai, SMA saya dulu awalnya di daerah tugu situ mbak…”, “SMA tugu (SMA yang dianggap favorit di kota ini) pak?” tanya saya. “Iya mbak…,” saya sempat heran karena kebanyakan keluaran dari SMA-SMA di wilayah Tugu itu menjadi orang-orang sukses dan berhasil (Anda tahulah sukses dan berhasil yang saya maksud disini ^_^), dan disini saya menemukan sesuatu yang berbeda. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya karena melihat wajah saya yang nampak heran, “iya Mbak beneran, tapi ya gitu Mbak saya dulu anak sekolah yang nakal, gak niat sekolah pokoknya. Sampai saya dikeluarkan dari SMA itu. Saya akhirnya pindah ke SMA lain, tapi ya sama saja…saya harus keluar masuk SMA. Sampai akhirnya orang tua saya menyerah dan tidak mau lagi membiayai sekolah saya…. Saya terpaksa putus sekolah. Dan beginilah jadinya …, “ sang tukang parkir melihat saya sambil tersenyum (tersenyum pahit tepatnya ). Saya hanya terdiam mendengar cerita beliau.

“ Penyesalan memang selalu datang belakangan Mbak, paling tidak…tidak ada kata terlambat untuk berubah kan dan saya bertekad agar anak – anak saya tidak menjadi seperti saya.” Tukasnya sambil tersenyum cerah. Saya ikut tersenyum mendengar pernyataan sang bapak tukang parkir itu.

Kamipun melanjutkan pembicaraan, dari A sampai Z. Sampai akhirnya, hujan perlahan mereda. Melihat kondisi ini saya dan sang bapak menyudahi pembicaraan. “Hujan sudah mulai reda Pak, saya pamit pulang dulu pak.” “eh… iya mbak, motornya tadi yang mana mbak?”tanya sang bapak. Saya menunjuk salah satu motor diantara barisan motor yang menempati lahan parkir sempit ini. Sebagaimana tukang parkir, sang bapak membantu saya mengeluarkan motor dari tempatnya. Setelah membayar jasa parkir, saya berpamitan kepada beliau,” mari Pak, terimakasih.” “Iya mbak, hati-hati,”pesannya.

Dalam perjalanan pulang, saya bersyukur sekali mendapat pelajaran berharga dari seorang tukang parkir bahwa jangan sampai kita menyia-nyiakan masa muda atau usia (waktu) kita yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Dan tidak ada terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Subhanallah…1 lagi pelajaran hidup yang saya dapat dari seorang tukang parkir.

Semeru Net-2007, saat menunggu hujan reda….

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mendapat pelajaran dari orang yang tak terduga?

5 thoughts on “CERITA SANG TUKANG PARKIR

  1. memang pelajaran tidak hanya didapat dibangku sekolah, didalam masjid atau dilingkungan kampus… pernah juga saya mendapatkan pelajaran dari seorang penjual makanan keliling… dan itu sangat berharga hingga kini masih saya ingat ^_^

    • benar banget mas, kita bisa belajar dari mana saja dan kapan saja. Salam kenal ^_^V, dan terima kasih atas kunjungannya

  2. idem sama yang di atas. hihihi.
    karena yang didapat di bangku sekolahan itu cuma pelajaran yang bersifat pelajaran. hehehe
    kalo mau mendapatkan pelajaran hidup bukan bangku sekolahan yang tepat. tapi bisa dari mana saja, ternasuk tukang parkir😀
    anyway salam kenal mbak🙂

  3. bagus sekali ceritanya. memang benar mencari pelajaran itu tdak di sekolah saja tpi d bisa di mana saja.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s