SAFETY RIDING MULAI DARI DIRI SENDIRI

Safety Riding??? Apaan sih?

gambar : koleksi pribadi penulis

Kalau diartikan sih safety riding sama dengan keselamatan dalam berkendara. Hmmm… emang penting ya?

Jawaban saya “PENTING BANGET”, bagaimana dengan Anda? (saya harap juga penting ^_^)

Saya menjawab demikian karena sebagian hidup saya, saya habiskan bersama tunggangan saya (kendaraan roda dua alias motor) di jalan. Dan selama perjalanan, saya tidak tahu apa yang bakalan terjadi pada diri saya. Minimal saya sudah berkendara dengan aman.

Safety riding memang terkesan ribet, harus pakai helm SNI (yang terkadang terasa berat di kepala), pakai jaket, masker, sarung tangan, sepatu, cek kondisi kendaraan sebelum berangkat, sampai harus rela berhenti dan menunggu lampu merah yang terkadang menyala lebih lama dari lampu hijau dan kuning. Namun demikian, saya selalu berpikir “tak apalah ribet sebentar asal aman, nyaman dan selamat” daripada karena gak mau “ribet “ malah tambah ribet karena harus berurusan dengan yang namanya kecelakaan lalu lintas, rumah sakit dan polisi.

Awal saya menerapkan prinsip <em>safety riding karena pesan dari orang tua, “Hati-hati di jalan, jangan lupa bawa surat-surat yang lengkap. Jangan ngebut-ngebut asal selamat sampai tujuan, dan satu lagi saya tidak mau kalau kamu sampai harus berurusan dengan polisi.” Setiap hari selalu itu yang disampaikan kedua orang tua saya sebelum saya berangkat.

Berawal dari nasihat orang tua, saya mulai merasakan dari manfaat safety riding. Sehingga ada yang kurang ketika perlengkapan safety riding lupa untuk saya gunakan. Berikut manfaat yang saya rasakan:

1. Perlengkapan safety riding:

sumber gambar : 2bikers.net

a. Helm : dengan menggunakan helm berlabel SNI (Standar Nasional Indonesia) saya merasa aman akan keselamtan kepala saya (utamanya isi kepala), saya pun bebas dari debu yang masuk ke mata.
b. Jaket : selain pelindung tubuh dari sesatu yang tidak diinginkan, jaket bisa menyelamatkan saya dari masuk angin ^_^
c. Masker : masker sangat membantu hidung dan mulut saya dari debu-debu yang berterbangan di jalan
d. Sarung tangan : selain rasa aman yang saya dapat, kulit saya pun bisa terlindung dari sengatan matahari
e. Sepatu : sepatu yang melekat kuat dikaki daripada sandal lebih nyaman dipakai pada saat berkendara dan kaki saya juga lebih terlindung.

2. Cek kendaraan :

motor tunggangan penulis

Sebelum turun ke jalan, saya selalu mengusahakan untuk selalu mengecek kondisi motor tunggangan saya. Yang saya cek utamanya: kondisi ban dan rem.

Saya senantiasa mengecek ban motor saya apakah dalam kondisi ready ataukah kempes (kurang angin). Karena sebelumnya saya pernah hampir jatuh pada saat membelok di tikungan karena ban tiba – tiba bocor, pada saat itu ban motor saya bocor karena sejak awal berangkat ban dalam keadaan kurang angin namun saya paksakan untuk mengendarainya.

Rem juga tidak kalah penting, karena kalau rem sampai “blong” bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nantinya . (hiiiiii ngeri )

Terkait masalah kondisi kendaraan, meskipun motor saya bukanlah motor terbaru namun saya selalu memperhatikan kelengkapannya. Di saat motor lain banyak yang hanya menggunakan 1 spion, saya masih menggunakan 2 spion. Pokoknya semua onderdil masih komplit terpasang pada tempatnya. Saya berpikir, bahwa setiap perusahaan pembuat kendaraan pasti sudah memikirkan manfaat dari setiap perkakas yang terpasang pada kendaraan produksinya.

3. Tertib selama dalam perjalanan :

Tertib selama perjalanan cukup penting bagi saya, karena jalanan bukanlah milik saya seorang tetapi milik bersama, jadi musti tertib. Kalau tidak tertib nanti bisa merugikan diri saya dan orang lain.

Tidak perlulah ngebut di jalan hanya untuk dinilai “keren”. Standar saja jalannya, bagaimana bisa keren kalau ada salah satu dari anggota badan kita yang rusak gara-gara kecelakaan lalu lintas karena ulah ugal-ugalan di jalan.

Pernah suatu kali saya di-klakson berkali-kali oleh angkot di belakang saya karena saya berhenti pada saat traffic light mulai menyala merah. Saya santai saja, meskipun sopir angkot sempat marah-marah karena keinginannya hendak menerobos lampu merah terhalangi. Melihat sikap si sopir, saya diam saja –yang penting tindakan saya sudah benar (ogah banget kalau harus bertaruh nyawa).

Pernah juga ketika saya sedang melaewati jalan yang sepi, tiba-tiba dikejutkan oleh seorang anak kecil yang menyeberang jalan secara tiba-tiba. Karena kaget saya langsung mengerem dengan sekuat-kuatnya. Syukurlah, anak kecil tadi selamat dank arena kecepatan saya yang sedang-sedang saja maka tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya juga suka geram kalau melihat orang naik motor sambil telepon atau sms. Karena konsentrasi mereka biasanya terpecah sehingga tidak melihat kondisi jalan. Karena saya tidak suka dengan hal tersebut, maka saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya.

Yang terpenting bagi saya, dengan melakukan safety riding, saya merasa aman dan nyaman saat berkendara. Saya berharap setiap orang yang berkendara dapat menerapkan prinsip safety riding, bukan karena takut ditilang tetapi demi keselamatan bersama, minimal diri sendiri.

Bagaimana dengan Anda?

16 thoughts on “SAFETY RIDING MULAI DARI DIRI SENDIRI

  1. jarak dengan kendaraan di depan untuk menghindari terjadinya tabrakan adalah sekitar 5 detik
    kalo disini masalahnya adalah apakah jalannya sudah ber-SNI..? ya percuma aja kalo dari pihak pengendara berSNI tapi jalannya kualitasnya ga jelas gitu…

    btw saya bingung dengan standar SNI. saya pernah liat helm yang berlabel SNI tapi koq rasanya ringkih banget yahh… seperti helm bawaannya Motor Honda. Beda dengan standar DOT dan SNELL, untuk merk luar negeri yang memakai kedua standar tersebut helmnya ringan tapi solid. Contoh paling gampang adalah helm sepedaku, ga pake SNI cuman kalo solidnya lebih terjamin daripada yang SNI ringkih itu contoh lain seperti merk AGV dan NOLAN

    CMIIW

    • Setuju Pak, jalan di negeri ini masih banyak yang belum berlabel SNI. Tetapi minimal pengendaranya ber-SNI ^_^V

      • Kalo Helm indonesia yang berlabel SNI mah masih saya ragukan unsur safetynya, kecuali mungkin merk BMC, KYT, dan INK

        kalo SNI yang 100ribu kebawah mending ga usah dilirik dah

  2. hwkwkwkwk…betul..betul..betul…..bukan “safety riding karena takut ditilang”….kalu kaya gitu sama halnya dengan statement “safety riding karena takut selamat” hwkwkkwkwk…. like dis mbak ^__^

  3. memang dari diri sendiri kita dapat merubah dan melakukan yag besar…

  4. Lucunya kadang kita uda mencoba safety ridding eh malah di klakson oleh pengendara di belakang kita -__-”
    *kejadian waktu lampu masih merah di perempatan namun arus lalu lintas sepi

  5. tulisan yg mantaf… laik dis sist…:mrgreen:

  6. Salam kenal dari Jember.
    setuju banget! safety riding emang ribet tp penting!
    Tp menurut pengalaman nie, solusi termudah ngatasi tuh smua yaitu……….. klo mo ke mana2 dg minta anter aja. Beres kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s